28 C
Batusangkar
Kamis, Januari 27, 2022

Candramawa Negeriku

Oleh : Andini Safitri (X Keagamaan 1)

Teringat kala dulu hati masih suci
Belum ternoda pikiran benci
Tak terbayang akan jadi begini
Rasa yang kiranya pantas diperjuangkan
Ternyata menodai khayalan angan
Dengan lidah itu, kau semburkan bumbu benci
Kau pupuk dengan tanah yang penuh api
Setiap kali kau singgahi tempat suci
Disitu pula kau tanamkan bibit mati
Menghanguskan lahan yang dulunya hijau
Tak pernah kau sadari bahwa perbuatanmu menyiksa yang lain
Kau tambah dan kau tambah lagi
Membuat alam buana ini kembali berkhayal
Akan datangnya hidup sentosa
Hati mu telah mati
Nuranimu telah berpindah ke dalam tempat sampah
Pantaskah kau berdiri dengan pongahnya di atas kursi itu
Pantaskah kau kami hormati setelah semua ini
Pantaskah dirimu istirahat dengan tenang, disaat semua sedang dilanda duka?
Apa yang kau banggakan?
Jabatanmu atau Hartamu?
Yakinkah engkau, harta dan jabatanmu kau dapatkan dengan halal.
Hmmm, Hanya kau, harta, jabatan dan Tuhan yang tahu
Setelah semua masalah berlalu, kau datang
Seakan kaulah yang menemukan pemecahan
Padahal semua hanyalah sandiwaramu
Yang dirancang demi ketenaran
Memang, aku hanyalah anak kemaren sore
Tapi aku punya otak, akal dan hati nurani
Tidak sepertimu, punya otak, akal dan tidak punya hati nurani
Karena mereka berdua telah mati
Telah hilang ditelan rakusnya jiwamu
Seruan kritik dan komentar kau baca
Tapi setelah itu sang pengkritik telah hilang ditelan bumi
Sungguh picik caramu bermain, sangat manis skenariomu terasa
Telah pantas kau dapatkan tanda jasa atas tindakanmu itu
Ingatlah akan karma dibayar tunai
Mungkin di dunia kau bahagia, tapi di alam akhirat nanti
Kau hilang ditelan api yang membara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Oleh : Andini Safitri (X Keagamaan 1)

Teringat kala dulu hati masih suci
Belum ternoda pikiran benci
Tak terbayang akan jadi begini
Rasa yang kiranya pantas diperjuangkan
Ternyata menodai khayalan angan
Dengan lidah itu, kau semburkan bumbu benci
Kau pupuk dengan tanah yang penuh api
Setiap kali kau singgahi tempat suci
Disitu pula kau tanamkan bibit mati
Menghanguskan lahan yang dulunya hijau
Tak pernah kau sadari bahwa perbuatanmu menyiksa yang lain
Kau tambah dan kau tambah lagi
Membuat alam buana ini kembali berkhayal
Akan datangnya hidup sentosa
Hati mu telah mati
Nuranimu telah berpindah ke dalam tempat sampah
Pantaskah kau berdiri dengan pongahnya di atas kursi itu
Pantaskah kau kami hormati setelah semua ini
Pantaskah dirimu istirahat dengan tenang, disaat semua sedang dilanda duka?
Apa yang kau banggakan?
Jabatanmu atau Hartamu?
Yakinkah engkau, harta dan jabatanmu kau dapatkan dengan halal.
Hmmm, Hanya kau, harta, jabatan dan Tuhan yang tahu
Setelah semua masalah berlalu, kau datang
Seakan kaulah yang menemukan pemecahan
Padahal semua hanyalah sandiwaramu
Yang dirancang demi ketenaran
Memang, aku hanyalah anak kemaren sore
Tapi aku punya otak, akal dan hati nurani
Tidak sepertimu, punya otak, akal dan tidak punya hati nurani
Karena mereka berdua telah mati
Telah hilang ditelan rakusnya jiwamu
Seruan kritik dan komentar kau baca
Tapi setelah itu sang pengkritik telah hilang ditelan bumi
Sungguh picik caramu bermain, sangat manis skenariomu terasa
Telah pantas kau dapatkan tanda jasa atas tindakanmu itu
Ingatlah akan karma dibayar tunai
Mungkin di dunia kau bahagia, tapi di alam akhirat nanti
Kau hilang ditelan api yang membara

Whatsapp
Tanya madrasah?
MAN 2 TANAH DATAR
Selamat datang di MAN 2 TANAH DATAR
ada yang bisa kami bantu??