Jln.Jendral Sudirman, Lima kaum

Tanah Datar, Sumatera Barat 27213

+62 812-6882-3584

24/7 Customer Support

Senin - Sabtu: 07.00 - 15:30

Jam Buka Sekolah

Jagalah Kesehatan Sebelum Dia Datang

Oleh : Khairu Afifah SW (X IPS 2) 

Waktu terus berjalan, berjalan tapi pasti. Banyak pengalaman cerita baik suka, duka, tawa, dan air mata yang dilalui mulai maret hingga sekarang. Hatinya kala selalu bertanya- tanya akan hal yang tak mungkin menggiring banyak opini akan topik bahasan yang hangat saat ini.

Kala senja datang, pikir Emil panjang ke ujung samudera. Kenikamatan secangkir jahe panas di depan teras berharap membuat suasana hati dan pikiranya menjadi rileks. Suara langkah kaki perlahan terasa gundah terdengar dari arah belakang, ingin Emil menoleh tapi kian terlambat untuk terlihat. Hanya suara itu dan sedikit bayangan yang tampak. Hatinya mulai semakin resah dan gelisah sambil mengambil cangkir hadapannya. Seperti ingin perang dengan siap siaga walau bantuan senjata yang seadanya. Mengingat dirinya hanya seorang diri dirumah.

Tap..tap suara langkah terdengar lagi. “Cilubbaaa”….kata Ibunya sambil tertawa menghiburnya.

“Ibu, ibu ini sangat mengagetkan bu” ucap Emil nada sedikit tinggi karena rasa kagetnya.

“Ada apasih nak, gitu amat wajahnya? banyak pikiran ya, ayo sini cerita Mil..” kata ibu sambil mendekatinya dan duduk di sampingnya ada kursi kosong

Emil masih terdiam kaku ketika Ibunya bicara. Entah apa yang dipirkan Emil hingga semua tampak buruk harinya. Semua tergambar dalam mimik wajahnya. Ingin Emil berbagi cerita tapi sulit untuk memulainya dari mana. Suana menjadi hening begitu saja.

“Tidak apa-apa bu, tidak ada masalah dengan Emil Bu. Cuma,…” cakap Emil berhenti lagi entah apa yang membuat begitu.

“Cuma apa Nak?” kala kembali bertanya balik kepadanya.

Ketika Emil yakin akan menceritakan. Saat itu terhenti lagi oleh suara yang terdengar dari lantai bawah rumah. Sepertinya ada yang datang kerumah. Emil segera melangkah menuju lantai bawah melewati liku jenjang rumah yang bisa dikakatan terjal sebab tempat pijakan yang kecil bagi ukuran kakinya.

“Dum prakkk…..aduhhh sakitt” pekik Emil terdengar keras terdengar keras oleh Ibu.

Ibu langsung bergegas kw arah tangga dan melihat Emil yang kesakitan di bagian kakinya. “Nah kan… Fokuslah nak jangan gelisah begini, kalau ada apa berbagi” sambut Ibu sambil berdirikan Emil dan membawanya duduk ke arah kursi ruang tengahnya.

“Assallamu’alaikum…” Suara salam masih terdengar arah pintu keluar dan ketukan yang berulang sesekali terdengar membuat Ibu Emil bergegas untuk menyambut  tamu siapa yang datang.

“Wal’alaikumus salam wr.wb…masuk ibu silahkan” saut ibu Emil sambil menatap tamu itu. Tamu itu tak lain tak bukan adalah masih saudara masuk kampung dari keluarga Ibu Emil ia biasa di panggil Ina. Ina yang berbalut tutupan hidung di wajahnya menolah untuk masuk karena hanya menyampaikam pesan yang tak butuh waktu lama.

Emil yang duduk terdengar sedikit pembicaraan antara Ina dan Ibunya untuk meminta agar datang ke acara hajatan yang masih satu kampung dengannya. Tidak lama Ibu masuk lagi lalu mengajak Emil untuk menemaninya agar ke hajatan yang baru saja diundang itu.

“Emil , yuk temani Ibu ke hajatan nanti tapi kita sebentar aja dan pakai protokol kesehatan lengkap” tatap Emil merayu mengakaknya.

Emil mendengar akan hal itu merasa ketakutan cemas lagi. Akibat cemasnya ia pun usah untuk menelan apa yang akan dimakan. Dia memikirkan jikalau diluar sana banyak virus jahat yang siap menerkamnya dan orang lain dan seolah langsung mati ketika berada diluar rumah. Isu berita yang kala datang setiap pagi, menjelang senja, dan tengah malam dia amati didepan layar tipis televisinya berapa banyak korban akan virus covid19 itu.

“Sudahlah terlalu cemas dan takut itu juga tidak baik dampaknya nak” saut ibu meyakinkan Emil dan Emil pun menganggukkan kepala. Setengah jam berikutnya ayah Emil datang ketukan pintu pun berulang dan salam bersambut dan beristirahat.

Waktu menujukkan pukul 20.00 WIB Emil bergegas kebawah dengan perlengkapan lengkap, masker, hand sanitizer sudah disipakan. Mobil yang sudah siap tuk berangkat yang dikendarai ayahnya pun siap mengarahkan. Perjalan 4 km tak lupa pula ditemani melodi indah musik lawas yang diputar. Pandangan yang melirik ke luar kaca tampak masih banyak orang kerumunan dan masih banyak tidak patuhi protokol kesehatan. Ingin dalam hatinya bertindak menyuarakan apa yang mereka lalukan itu salah pada saat kondisi saat ini.

“Lihatlah mereka, masih belum sadar atas apa yang terjadi akibatnya akan ke kita semua..kan Bu” cakap berikan argumen pada ibu dan anaknya Emil.

“Yah, kita dirumah aja Ibu selalu bicara mengingatkan kita agar tetap sehat mulai pola kegiatan sampai pola makan pun diperhatikan” tegas Emil berikan pendapatnya.

“Iya Nak…Ibu ngak mau keluarga ibu terkena tularan virus jahat itu” tegas ibu Emil lagi.

“Betul Emil anak ayah, Ibu terhebat meski jadwal padat tapi selalu perhatikan kesehatan keluarga kita nak” kala ayah tersenyum mencairkan suasana tegang atas bahasan topiknya.

“Nah, jadi makanya kita semua jangan lupa untuk saling mengingatkan antar sesama nak, kesehetan itu penting sekali dalam hidup” tegas ibu semangat merayu mengajak anaknya.

“Ibu ayah sebelumnya Emil minta maaf atas sikap Emil yang tadi bu Sebab,Emil terlalu takut akam masalah virus ini hingga semua lupa dan lalai” terunduk sedih dan menyesal.

“Iya tidak apa- apa nak, oleh karena itu jangan lah terlalu cemaskan segala apa yang terjadi, lalui itu hadapi itu dengan kemampuan dan aturan yang ada. Betulkan Yah , emil? Kala tersenyum berikan semangat.

“Yap, betul nak…nah kita harus jaga jarak, cuci tangan, pakai masker, saat batuk dan bersin pakai adab yang benar dan…” Emil terhenti panjang kala sambil memikirkan lagi.

“Dan makan makanan yang bergizi seimbang tertur srta pola kegiatan yang benar agar ketahanan tubuh kita terjaga kan yah?” Bertanya merasa benar akan jawabnya.

“Wah betul nak,nah jangan lupa pesan itu ya….udah ni? Kita udah sampai loh” sambil tahan tawa karna keasikan ngobrol.

Semua turun dan kehajatan dengan waktu sebentar saja dan patuh aturan. Sepanjang hanya 30 menitan pun Emil dan ayah ibunya kembali kerumah dan membersihkan bentuk pencegahannya. Selamat beristirhat malam yang indah.

Khairu Afifah SW

Dia ini adalah seorang gadis yang ingin selalu mencoba sesuatu yang baru dalam menjalani hidupnya. Dia suka menulis akan hal yang dilakukan setidaknya setiap hari dalam sebuah buku kecil miliknya. Tetapi baru memulai mencoba untuk menampilkan karya yang  terpendam dalam dirinya. Dia bernama Khairu Afifah SW . Biasanya dipanggil  Afifah dan ada juga memangilnya Fifah. Gadis ini dilahirkan di Batusangkar pada 24 Januari 2004 yang lalu. Dia ini beralamat di Jl. Raya batusangkar- Padang Panjang Km. 6 Sumatera Barat . Dia adalah anak Ke-3 dari kembar bersaudara dari enam bersaudara. MA/MAN 2 Tanah Datar  nama tempat ia melanjutkan pendidikannya sekarang sebagai siswi di jurusan IPS. Dia pernah mengikuti  Ekskul, Olahraga Basketball, Tahfidz, dan Tari. Dia memiliki instagram atas nama khairuafifahsw dengan e-mail: khairuafifah10@gmail.com. Hidup di dunia hanya sementara , dunia adalah ladang amal akan menuju akhirat syurga atau neraka. Tergantung kita mau memilih jalan yang mana. Lebih baik mencoba dari pada tidak sama sekali sebelum menjadi penyesalan di akhir nanti. Barang siapa bersungguh- sungguh maka ia akan mendapat.

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Postingan Terkait

Sejarah Singkat MAN 2 Tanah Datar

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Tanah Datar terletak di kenagarian Limo Kaum Kecamatan Lima Kaum Kabupaten Tanah Datar atau berjarak kira-kira 2 km sebelah utara

Whatsapp
Tanya madrasah?
MAN 2 TANAH DATAR
Selamat datang di MAN 2 TANAH DATAR
ada yang bisa kami bantu??