KARYA TULIS GURU

KUNCI PENERAPAN PEMBELAJARAN SEGITIGA LURINGBUANG EGO ANGKAT KEIKHLASAN

Oleh : KASNIDA, S.Ag, M.Pd

Salah seorang guru muda yang gagah dan sangat energik diharapkan pada masa sekarang, berani mengambil sebuah sikap dengan menggunakan posisi kepala sekolahnya untuk mengambil sebuah keputusan beliau adalah Lista, S.Pd.I Guru SDIT sekaligus sebagai Kepala sekolah SDIT Esa Unggul Pekanbaru, RIAU akan berbagi praktek baik yang telah dilaksanakan yaitu, Segitiga pembelajaran luring dengan kunci buang ego, angkat keikhlassan dan kesabaran demi mencerdaskan generasi emas Indonesai.

Untuk mewujudkan cita cita tersebut Lisata mengutip ungkapan Ki Hajar Dewantara:” setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru” : makna tersiratnya dimanapun dan kapanpun kita bisa belajar, di lapangan, masjid, pertanian bahkan peternakan siswa bisa belajar, demikian juga kita sebagai guru

Belajar tiada henti maka kita harus melejitkan potensi diri dengan mengikuti berbagai webinar dalam rangka menambah ilmu, menyelesaikan permasalahan yang muncul. Masa pandemi begitu banyak keluhan dari siswa dan curhat orang tua, maka kita perlu melakukan pertemuan gugus dan rapat rutin dengan majli sguru agar pembelajaarn maksimal diaksanakan.

Dari agenda yang dilakukan tersebut maka dapat dihasilkan sebuah keputusan yang tepat untuk dilaksanakan masa pandemic yaitu Segitiga Pembelajaran Luring.

Segitiga pembelajaran luring yang dimaksud adalah melaksanakan tiga tahapan pemecahan masalah dengan cara

  1. Kunjungan guru
  2. Konsultasi belajar
  3. Lembar belajar siswa (LBS)

Kunjungan guru ke rumah rumah atau tempat yang disepakti dimana orang tua bekerja, ke kantor, atau dimana yang disepakati oleh orang tua, maka anak baru masuk akan dibimbing melaksanakan sholat dhuha, membaca iqra; dan bagi anak yang sudah bisa baca alquran terutama kelas IV di bimbing untuk melanjutkan hafalannya. Ini dilaksankan pada peckan pertama.

Konsultasi belajar target dengan 2 target, pertama target keislaman karena kita sebagai sekolah terpadu target utama mengalokasikan 25 % untuk pendidikan keislaman dan 75% materi umum, semuanya diatur sedemikian rupa. Anak bergantian ke sekolah untuk konsultasi satu kali seminggu dengan dibagi 3 sif, setiap sif terdiri dari 5 orang anak, yang datang pada 3 jam pertama, 3 jam ke 2 dan 3 jam ketiga, mereka diberi kesempatan 45 menit untuk berkonsultasi apa saja keluhannya dan kesulitan dari anak selama belajar luring, hasilnya akan dicarikan solusinya pada pekan kedua dengan mengadakan rapat majlis guru.

Lembar belajar sisiwa (LBS) sama dengan lks yang dibuat sendiri oleh guru, baik guru mata pelajaran maupun guru kelas, materi diambil dari buku guru dan buku sisiwa dengan bahasa yang mudah dipahami sesuai dengan masa pandemi. Setelah selesai diketik dan dibuat guru, kemudian harus melalui verivikasi dari tim pendidikan setelah ok baru diperbanyak dan disebarkan kepada siswa

Cara mendapatkan LBS tersebut, siswa atau orang tua harus mengambil ke guru kelas melalui protocol kesehatan, serta mengerjakan LBS tersebut di rumah masing masing.

Setelah ketiga program itu dilaksanakan maka setiap akhir pekan diadakan evaluasi pembelajarn luring, pekan pertama telah diadakan kunjungan guru, apa positif dan kendala dan keluhan anak dan orang tua yang ditemui, kemudian dari hasil kunjungan belajar siswa ke sekolah apa positif, jika ada kendala apa kendalanya, setiap akhir pekan selalu dievaluasi untuk mencarikan solusi terbaik pada bulan berikutnya.

Hasilnya yang didapat dari pembelajaran segitiga luring tersebut sangat memuaskan yaitu:

  1. Membatu orang tua memecahkan masalah pembelajaran daring, yang sbelumnya banyak curhta dan keluhan orang tua dan murid, bisa teratasi
  2. Tujuan pembelajaran tercapai meskipun bukan 100%
  3. Kegiatan pembelajaran teradministrasi dengan baik.

Akhirnya Lisata menutup dengan sebuah ungkapan “Guru Adalah Gigih Untuk Reformasi Umat, Tanda Guru Hebat Berani Belajar Dan Siap Mengajar”

Materi selesai diberikan, pertanyaanpun bermunculan dari peserta webinar, bukti antusiasnya peserta akan gebrakan yang telah dipraktekkan oleh Lisata ini, Stau persatu pertanyaan tersebut dijawab dengan seang hati.

Pertanyaan pertama dari Rinaldo bagaimana solusi yang diberikan bagi anak yang tidak mau belajar daring karena tidak punya HP, jawaban sangat simpel sekali yaitu melaksanakan Pembelajaran Segitiga Luring. Ini salah satu solusi yang tepat telah diterapkan di SDIT yang dipimpin oleh Lisata.

Pertanyaan kedua bagaimana jika tidak ada sinyal, kembali Lisata menuntaskan pertanyaan tersebut, maka diadakan pembelajaran luring dengan kunjungan ke rumah untuk mengajar anak anak jika ada kendala

Pertanyaan ketiga dari bu Nur Aini yang senada dengan bu Cici yaitu bagaimana cara siswa melakukan LBS, apakah ditunggui gurunya ketika siswa mengerjakan LBS, dan bagaimana cara kunjungan guru ke rumah rumah dan konsultasi ke sekolah.

Lisata dengan tegapnya menjawab, LBS yang dibuat tersebut, dikemas berbentuk edisi bulanan, Edisi agustus sudah siap pada bulan juli dengan siswa mengerjakan di rumah masing masing. Pelaksanaan LBS menentukan jadwal yang sudah ditetapkan sesuai dengan jadwal anak dan hari yang ditentu, selama satu bulan, dari hasil mengerjakan LBS tersebut jika terdapat kesusahan dalam menjgerjakan LBS dan anak tidak paham maka inilah yang dikonsultasikan ke sekolah.

Setiap anak berhak dikunjungi guru, termasuk kepala sekolah, semua turun ke rumah siswa, bahkan pernah tersesat dan kehujanan dalam perjalanan dan dicegat oleh satpam tidak boleh melewati daerah ini karena PSBB, Lisata menekankan kepada guru “mari turunkan ego angkat keikhlasan, angkat kesabaran demi mencerdaskan generasi emas Indonesia tahun 2045. Kita berikan yang terbaik buat anak anak kita

KASNIDA

Batu Basa-Batusangkar, Kamis 3 september 2020

Post Comment