KARYA TULIS SISWA

PENGALAMAN DI SAAT VIRUS DATANG

Oleh : Gea Afifa (X Keagamaan 1, peserta lomba menulis MAN 2 Tanah Datar)

Hey dia datang!

Suara dan seorang anak sambil berlari penuh kegembiraan. Hey kakak Revan datang, dia bersama tuan guru, ku dengar dia akan menyampaikan berita yang bagus itu yang dikatakan Erma pada ku. Geng kami tak lama setalah itu datang lah tuan guru dan refan sambil melihat aku langsung berdiri berdiri dan tuan guru. Tuan guru memberi abah-abah untuk berkumpul. Revan adalah ketua kelas kami, pintar dan taat Agama tidak seperti laki-laki lainyang dilokal kami, tapi aku adalah bendahara yang bisa dibilang cerewet oleh teman lokalku . “oh ya” Refan berkata lagi. Tuan guru ikut berbicaera bahwa yang kami inginkan terwujud. Aku terheran dan langsung bertanya walaupun sempat di acuhkan oleh tuan guru. “apa maksud tuan guru, kami tidak paham”  tuan guru menjawab sembari dengan tatapan sinisdan agak terdengar marah “iya, ini yang kalian inginkan, kalian sudah berhasil dan tanggisan kalian dibayar oleh Allah dengan sebuah penyakit yang mematikan dan kalian dipulangkan”. Aku pun terdiam, Azi pun mulai berteriak tetapi semua teman lokal gembura mendengarkan semua itu “ dan kalian di pulangkan selama dua minggu” lanjut tuan guru setelah itu tuan guru pergi tanpa basa basi, kami pun langsung melompat kegirangan termasuk diriku, tetapi refan tanpak tidak senang. Oh ya kami ada kami ada tujuh orang satu gang, termasuk revan salah satunya. Mia pun berkata “apa yang kamu pikirkan Refan, kita libur dan kita pulangkampunginikan yang kita mau?” Rfan pun berkata “iya aku senang sekali, tapi tuan guru masih marah sekali pada kita ” “itu wajar kan kita yang salah, kita yang nanggis dan kita juga yang kabur, kita yang mengajak teman-teman untuk kabur, kita yang membuat ulah pantas saja tuan guru marahkan” kata Dandi sambil tersenyum Niken pun marah pada kami jadi tidak berkumpul dengan kami, tetapi kami maklumi saja karena itu adalah salah kami kami yang tidak setia kawan. Aku berjalan menyamperin niken tetap saja dia tidak mau berbicara pada ku. Dalam hati yang paling dalam sih aku dsaat ini senang karebna mendengar berita libur, ssudah hampir enam bulan kau tidak pulang kampung aku berterima kasih kepada musibah ini.

Sudah dua bulan aku disini main hp memegang buku dan pena sambil berfikir aku sufdah bosan dirumah, itu kata-kata yang terucap dari mulutku. Tidak lama setelah itu teman satu gangku pergi kerumahku untuk bertamu. “Aku beru saja  mendengarkan bahwa di daerah kita ada yang positif covid-19.” Kata Dandi pemudah yang senang awalnya kini murung mendengar berita itu. “tadi tuan guru bilang acara perpisahan kita dibatalkan” kata Revan. Erma langsung marah pada Azi karena Azi yang berdoa agar kita libur panjang. Mia hanya bisa diam, aku berbicara “ini nukan salah siapa-siapa, bukan kita yang memintak ini semua mengapa kita salang menyalahkan.” “Asselah benar kita yang memintaknya, kita yang berdoa ini salah kita” Mia angkat bicara “ entah apa yang kita pikirkan hingga berdoa yang tidak-tidak, hanya karna tuan guru marah kepada kita “ kata revan. “ini bukan yang aku inginkan, ini adalah sebuah mimpi buruk. Memang aku yang memintaknya, tapi itu karena kau bosan di pondok bertengkar dengan tuan guru ini adalah hukuman yang pantas untuk aku” pekik aku dalam hati sembari menganggis

Post Comment