KARYA TULIS SISWA

What Happen With Robin’s Name?

Oleh : Halimah Tusa’diyah (XII Keagamaan 2, peserta lomba menulis MAN 2 Tanah Datar)

“Wadau!!!” Jemari panjangku mengusap kasar lenganku yang malang setelah tertabrak dengan bahu orang lain.

Im sorry..that’s my badoh kurasa dia seorang turis.

Kuurungkan niat ku untuk marah, tak mungkin ku kasih first impression yang tak menyenangkan “oh it doesnt matter..

Hari ini tampak cerah. Ku hitung kembali berkas-berkas yang sedang kubawa, takut kececer akibat insiden tadi.

Yap! Syukurlah tak ada yang tertinggal.

Tanpa aba-aba tanganku langsung merapikan jilbabku yang tampak berantakan lagi-lagi karena insiden tadi.

“cekreet..” sepertinya jantungku berhenti 1 detik tepat setelah mendorong pintu coklat mengkilap itu.

Welcome..sit down please..” ucap seorang direktur yang akan meng-interview ku.

Gayanya keren. Dengan tuxedo hitam serta kemeja putih didalamnya, huft kriteriaku..no! Aku harus fokus. Dia atasanku sekarang! Aku tau dia orang asli Indonesia, tapi bahasa Inggrisnya membuatku tak bisa tidur, sepertinya.

what is your name?” rahangnya yang tegas membuat yakin perkataannya.

My name is halim dyaah.” Sepertinya kaki ku sudah berdansa di bawah rok hitam yang kukenakan. Namun aku tak akan terlihat gugup, kan ku pastikan itu.

ouh..that’s a good name. Can u spell it for me?” aku tau dia ramah, tapi tatapannya seperti tatapan elang. It’s cruel.

of course..eich ei el ai m di ai wai ei eich.” Thanks God, aku lancar menyebutkannya.

I see. Next tell me about u”

I graduated from islamic senior high school. And i live in west Sumatra. I am the second of three siblings.—”

“oke enough..” dia menghentikan perkataanku. Awalnya aku sedikit panik, namun melihatnya mengeluarkan senyum ramah padaku, kupu-kupu yang tadinya berterbangan indah di perutku hilang seketika. Ms. Robin. Itu yang tertera di papan namanya. “u have a good tounge in English.” dia menarik nafas nya pelan. “what are u up to in this business ?”

Ku kencangkan ikatan pikiran ku in this section. Aku harus siap karena mungkin disini penilaiannya.

Okay, in this business i Will do my best and i believe, i can to make this company forward in the future, i Will work hard.” Ku lebarkan senyumanku, aku tak gugup lagi. Aku percaya pada diriku sendiri.

Ms. Robin itu melunakan punggungnya dan bersandar pada sandaran kursi kerjanya. Tak lupa ia merapikan helaian poninya yang sedikit terjatuh menutupi kening.

“Selamat Halimah..kamu saya terima disini. I love ur skill!”

Kakiku akhirnya berhenti berdansa setelah mendengar pernyataan direktur itu. “thank u so much. Im glade to hear that u accepting me.”

Setelah aku keluar dari tempat yang membuat jantungku maraton, tanpa memerhatikan orang sekitar, kakiku yang panjang tak tahu malu untuk loncat-loncat kegirangan.

“YEEEEEEAAAAAHHH…YEEAAH..I LOVE U MISTER…HUUUU”

BRUK!!!

“ARRRRRRKKKKHH…sakiiit…” sepertinya kepalaku benjol setelah terjatuh dari tempat tidur. Tapi tunggu..

WHAT? TEMPAT TIDUR?

“Kamu gak papa Lim? Aku dengar dari luar kamu teriak terus bilang i love u..ya udah aku kesini..”

“Aaaaaaa..Ara…aku gak jadi sukses ya..?” rambut ku sudah seperti benang kusut karena tangan “gak ada akhlak ku” sudah mengacaknya brutal.

Ara temen aku tanpa merasa iba atau apalah, dengan seenaknya menertawakan ku “sukses? Hei Lim! Sukses dari mana..ckckc..kerja kamu tidur terus.”

“Ya elah.. don’t get me wrong.. Ara..kamu taukan.. mimpi tidur ku lebih indah dari kenyataan.. kamu pernah kebayang gak..keterima di perusahaan gede’ di Indonesia.. dan yang lebih asyik lagi..—”

“Apa emangnya..udah deh Lim, kurang-kurangin ngehalu..” Ara berjalan membuka lemarinya.

“iih..dengerin dulu.. direktur nya ganteng banget Ar..kalo tau gitu mending aku tidur aja selamanya..” ya mungkin 95 persen dari kehidupanku adalah menghalu.

“Ya udah, gak ada yang ngelarang kamu buat tidur selamanya, by all means.. tapi sebelum itu kamu harus BERSIHIN KASUR! BERSIHIN NIH KAMAR.” Ara melemparkan sebuah bantal yang ada di dekatnya untuk menimpukku.

“Aaa..gak mau..aku mau mimpi kek tadi lagi..” tubuhku sudah persis seperti kain pel yang guling-guling membersihkan lantai.

“Lim!!..kalo mau sukses ya belajar..bukannya tidur mulu..”

“Tapi kan aku udah pintar Ra..”

“it’s up to you..im done.” Aku tahu Ara muak dengan sifat ku. Tapi siapa sih yang tidak sakit hati jika memipikan cita-cita yang kamu impikan?

It’s like you got ripped off!! It’s hurt.

Kaki ku tepat berhenti didepan gerbang sekolahku. Menerima kenyataan bahwa aku belum lulus sekolah dan mendapatkan pekerjaan seperti dalam mimpiku. Aku masih murid biasa yang masih berjuang untuk terus menerus mengejar masa depan yang cerah tanpa tahu akan akhirnya  never to know when it gonna be end.

Halim dyaah, itulah namaku not bad right? Aku suka nama itu. Panggil saja aku Lim, tapi sebenarnya terserah aku akan di panggil apa, asalkan masih dalam lingkup nama ku. Aku easy orangnya. Aku lahir pada tempatnya tanggal 4 April. Orang tuaku super sibuk, tapi itu tak masalah bagiku. Dan kini aku tinggal di sebuah apartemen bersama seorang temanku.

Farah Joee. Ini dia teman sekamarku yang setiap pagi tak pernah berhenti mengomeli ku, ya sepertinya dia punya banyak cadangan mulut jika suatu nanti mulutnya yang sekarang robek untuk menceramahi ku kembali. Farah merupakan keturunan indo Jerman, jadi wajar jika ia memiliki wajah blasteran dan cukup manis.

Cukup perkenalannya, aku tidak terlalu menyukai basa-basi. Pagi ini adalah kelas pelajaran bahasa Inggris. Dan kamu tahu..aku selalu berharap jika satu Minggu itu adalah pelajaran bahasa Inggris. Entah mengapa otakku yang bisa dibilang luar biasa untuk tidak dipakai ini, sangat amat teramat menyukai pelajaran yang satu itu. Eh ralat tentang otakku, aku yakin otakku sangat berguna. Jadi aku tak akan membiarkannya menjamur tanpa menguasai bahasa-bahasa yang akan ku pelajari.

“Mis! Mis! Aku bisa jawab!” kebuktikan, aku sangat exciting di pelajaran ini.

 Mrs Tini mengatur kaca matanya dan melihat ke arahku “Yes Dyah..what ur answer..?” oh ya aku lupa, yang memanggil ku Lim hanyalah Farah, aku tau aku istimewa di matanya LOL.

“umm that text ia explain about offering help.” Aku kira bahasa Inggris ku akan selancar seperti mimpiku tadi pagi, ternyata tidak..arrkh.

“Okay give her applause..” Mrs Tini memujiku dengan tepuk tangan para siswa lainnya, melihat tanggapan Mrs Tini tadi membuatku lega. Bahasa Inggris ku tak seburuk yang ku pikirkan.

Sepuluh menit yang lalu sebenarnya aku sudah pulang sekolah, tapi diriku tak benar-benar pulang sekolah karena my daily activity adalah les kursus bahasa asing, lebih tepatnya bahasa Inggris. Karena apa? Karena aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk bagaimana mewujudkan mimpi tidurku menjadi kenyataan. Bayangkan hampir dari seluruh mimpi ditidurku adalah memipikan kesuksesanku, dan kamu tau rasanya kan, bagaimana setelah bangun tidur. Im not gonna tell this again. Aku akan mendapatkan beasiswa itu dengan usaha ku sendiri.

Siapa sangka hari-hari semakin berlalu, aku sendiri pun tak menyadarinya tapi sukurlah aku tidak wasting my time. Setiap hari selalu kulalui dengan belajar dan les bahasa asing. Oh iya aku lupa mengatakan diawal, jika aku sangat suka berbahasa asing Inggris dan Korea. So, sekarang aku les pada dua bahasa itu namun lebih fokus pada bahasa Inggris. Karena aku ingat kata pamanku

“setidaknya kamu bisa menguasai bahasa Inggris atau Mandarin, karena itu penting buat kamu yang semangat dalam dunia perbisnisan.”

So, karena aku gak suka belajar bahasa Mandarin, jadi kuputuskan untuk tekun belajar bahasa Inggris, dan kalian pasti bertanya kenapa aku juga suka bahasa Korea, alasannya sih simple.

Aku suka drakor, dan aku tertarik dengan belajar bahasa yang tingkat kesulitannya di urutan ketiga dari lima bahasa yang sulit dipelajari didunia.

Sepertinya hari-hari sulitku akan dimulai dari sini. Dari ujian akhir sekolahku yang akan dimulai 5 menit lagi, tanganku bergetar aku selalu gugup menghadapi ujian, karena pasalnya dari awal aku masuk SMA, rata-rata ujian ku tak pernah menurun ataupun naik turun, nah di akhir kelas 3 ku ini adalah yang paling menegangkan, karena ini adalah penentuan. Kurasa kamu tau apa yang anak tingkat akhir rasakan.

Nilai turun, masa depan bisa disappear.If u ask, what are u up to ur future?

Oke, aku jawab, setelah tamat sekolah aku akan mendaftar beasiswa jalur universitas Korea, lalu aku akan mengambil bahasa dan sastra Inggris. Jadi kesimpulannya aku akan menguasai dua bahasa dalam satu tempat. Daebak.

Tapi kamu taukan, itu semua butuh jalan yang panjang dan serius. Itu tak semudah yang kamu bayangkan. Butuh proses yang berliku-liku.

“tolong untuk semuanya, ujian akan dimulai satu menit lagi. Dan harap untuk memasukkan kata sandi yang sudah tertera di papan tulis ke masing-masing komputer kalian.” Rol panjang yang berfungsi sebagai pengganti kerja tangannya, sibuk mengetuk-ngetuk papan tulis.

Satu menit habis dan ujian berlangsung tenang namun menegangkan, ditambah suhu ruangan yang dingin akibat AC disudut ventilasi yang hidup tanpa memberi celah untuk mendapatkan kehangatan, kaki ku tak bisa diam untuk berhenti bergoyang disebalik rok abu-abu sekolahku. Mataku satu persatu menelusuri soal yang tersedia di komputer, oh iya aku lupa memberitahumu, saat ujian ini aku tak satu kelas dengan Ara. Urutan nama kami berbeda.

Setiap soal mungkin sudah kupenuhi dengan doa-doa yang ku lontarkan dari bisikan hati dan mulutku, doa semoga tuhan memberkatiku atas ujian ini. Tangan ku sudah mulai mendingin, tapi aku masih bisa mengontrol kegugupanku sehingga orang tak dapat melihatku seperti mayat hidup.Singkat cerita, aku telah selesai menyelesaikan ujian yang membuat kupu-kupu hitam berterbangan didalam perut dan otakku. Dan sekarang rencana ku adalah untuk melakukan test TOEFL dan seperangkat itu. Karena program beasiswa ku menuntut untuk melakukan itu. Dan lagi-lagi aku menghadapi ujian. Siapa sih yang tidak ada ujian didalam hidupnya? Dasar aku.

Eh tunggu! Kalian kenal Mr Robin? Iya, dia, entah mengapa selalu singgah di mimpiku, dan tadi pagi aku kembali memipikannya. Chinca?

Skip dulu deh. Tegang terus kalo bahas si mister tampan itu.

Hiks..hiks..i know i cant do this, but my brain always say “you can” to me..”

“Eh Lim, kamu dengar ya..aku salut sama semangat kamu yang membaranya udah lebih dari api gedek, tapi kamu harus toleransi juga sama otak dan badan kamu..kasih mereka kesempatan buat istirahat sejenak..” Ara mengusap usap punggungku yang naik turun akibat isakan tangis ku.

Tanganku menyeka sedikit air mata yang akan keluar untuk kesekian kalinya. “tapi Ra..aku gak ada waktu lagi buat santai, bahasaku belum semantap yang aku bayangkan…padahal kan aku udah mati-matian untuk belajar dari dulu” kini kubiarkan air mata ku keluar lebih banyak lagi “nantik kalo aku gak lulus tesnya gimana?..hiks”.

I told u! Setop pesimis!..kamu gak boleh like this Lim. Kalo kamu udah nyerah duluan gimana kedepannya..” aku tau Ara sudah di puncaknya sekarang, tapi aku lagi tak mood untuk mendengarkan perkataanya.

“Tapi kamu gak ngerasain Ra..kamu gak tahu rasanya berjuang mati-matian demi mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan, karena apa? Karena kamu mampu mendapatkan itu semua dengan uang kamu..” aku tahu aku sudah tak terkontrol lagi..maafin aku Ra.

Ara melepaskan rangkulannya dari pundakku, ia menatapku tak percaya dengan apa yang aku lontarkan dari mulutku, matanya memerah, aku tahu ia tersakiti oleh kata-kataku. And up.. tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Ara keluar dari kamarku, dan sedikit menghempaskan pintu saat menutupnya.

Kalian pasti tau alasan mengapa aku menangis kemarin, ya itu. Sebabnya adalah karena hari ini. Hari dimana aku akan ikut test TOEFL, tes yang dijamin buat siapapun yang mengikutinya akan pusing tujuh keliling karena detak jantung yang tak akan berhenti deg degkan.

Pagi ini tak seperti biasanya, Ara tak kunjung keluar dari kamarnya bahkan untuk sarapan bersamaku, ku sempatkan mengetuk pintu kamarnya, hanya sekedar mengatakan.

“Ara..aku berangkat dulu..” hanya itu yang aku katakan, padahal aku berharap aku dapat mengatakan bahwa dirinya mendoakan ku, semoga lolos dalam tes ini.

“kreek” belum sempat ku berbalik, terdengar suara pintu kamarnya mendecit.

“Ar kamu-” “ayo berangkat, nantik kamu terlambat.” Ara sudah siap dan rapi dengan setelan baju cantiknya. Sebuah senyuman terukir di wajahku begitupun di wajahnya.

Ku kencangkan sabuk pengamanku, dan Ara lah yang akan menyetir.

“Ara..aku minta maaf, yang kemaren aku kebablasan..” jujur aku tak berani menatap mata Ara.

It’s okay Lim, sekarang kamu fokus buat tes kamu ya..”.

Semua peserta telah bersiap untuk ujian, termasuk diriku. Kini hatiku sedikit lebih tenang setelah Ara mengatakan it’s okay.

Sesi pertama adalah listening yang dimana kita benar benar harus menyiapkan kepekaan telinga agar dapat menyerap kata kata asing itu dengan baik. And then..

Semua berjalan lancar.

Aku akan menunggu hasilnya dengan hari-hari yang menegangkan.

“Lim..” Ara memanggilku dengan tampang muka yang sangat menyedihkan, aku lupa mengatakan jika hari ini adalah hari keluarnya penilaian tesk ku, namun aku sama sekali tak sanggup membuka website tentang penilai ku, maka dari itu aku menyerahkannya pada Ara untuk dibuka.

“A-aku gak lulus Ra?..” mataku mulai berkaca, aku tahu akan begini jadinya.

Ara mendekatiku dan duduk di kursi belajarku. “kamu yang sabar ya, aku-“ “udah Ra, aku tau apa yang mau kamu bilang. Kamu gak usah ngasih tau aku lagi, hiks..”

“Awalnya aku kira aku punya teman bodoh seperti mu, tapi setelah semuanya..aku baru sadar, jika kamu tak seburuk itu, dan Bahakan lebih dari ku.” Tutur Ara.

Ku angkat kepalaku “maksud kamu?”

Ara berdiri “CONGRATULATION LIM..U GOT IT!!! Dan hebatnya lagi..kamu diterima kuliah Lim.”

Kalian tahu apa reaksi ku..AKU PINGSAN!!!.

Semua hari yang kulalui dengan sulit kini sudah terbayarkan, kini aku sadari mencapai kesuksesan itu bukan lah hal yang mudah dan juga bukan lah hal yang sulit, seperti kata Ara, kita harus optimis, walaupun banyak “virus” yang menghadang kita, baik sekarang maupun di masa depan.

Kutarik koper ku menuju bandara, tak lupa mengucapkan perpisahan pada temanku tercinta…

Esok harinya..

“Cekleek” kubuka pintu besar nan mewah di depan ku.

“Exusme..i want to-” ucapanku terpotong akibat mataku melebar, tak percaya siapa yang kulihat.

“MR. ROBIN!!”

END

MY PROFILE.

Nama: Halimah Tussa’diyah

Kelas: 12 agama 2

Sekolah: MAN 2 Tanah Datar.

Tempat tanggal lahir: Batusangkar 4 April 2003

Motto: Learn to know and know to action and action to prove who you are..

MY PROFILE.

Nama: Halimah Tussa’diyah

Kelas: 12 agama 1

Sekolah: MAN 2 Tanah Datar.

Tempat tanggal lahir: Batusangkar 4 April 2003

Motto: Learn to know and know to action and action to prove who you are..

감사합니다..

감사합니다..

Post Comment